“Barat pulau?” gumam salah seorang penduduk. Kata itu membuat suasana berubah. Mereka saling pandang dengan ekspresi yang sama, cemas. Sebagai penduduk asli, mereka tahu apa yang mengintai di wilayah itu, bahaya yang bahkan mereka hindari selama ratusan tahun.

Lynx melihat ketakutan yang jelas tergambar di wajah mereka. Ia merendahkan tubuhnya, menurunkan posisinya agar sejajar dengan mereka. “Aku tahu ini berat. Tapi kalian bisa percaya padaku. Ditempat itu, dengan menyatukan kekuatan maka kalian akan jauh lebih aman,” katanya lembut namun penuh keyakinan, suara yang cukup kuat untuk memecah keraguan.

Sebuah suara perempuan tiba-tiba memecah keheningan. “Bagaimana dengan putri kami? Mira... dan yang lain. Apakah mereka selamat?” Suara itu penuh dengan kekhawatiran, nyaris pecah karena tangis yang tertahan.

“Mira dan teman-temannya baik-baik saja. Kalian bisa menjemput mereka sekaligus,” jawab Lynx, suaranya mantap, seperti janji yang takkan pernah ia ingkari.

Para penduduk mulai tampak sedikit tenang, meski sorot mata mereka belum sepenuhnya percaya. Lynx kemudian berbalik, memanggil Bruno dengan nada yang lebih dingin.

“Kamu!” panggilnya sambil menatap tajam ke arah Bruno. “Jelaskan kepada mereka di mana posisi kita saat ini dan lokasi tempat Mira berada. Kau tahu betul tempat itu, jadi tidak ada alasan untuk salah arah.” Lynx mendekat, matanya menusuk. “Dan kalau sampai kau mencoba mempermainkanku...”

Bruno buru-buru mengangguk, tangannya sedikit gemetar. “B-baik, aku akan jelaskan. Jangan khawatir!” katanya dengan nada memohon, lalu segera memberikan penjelasan rinci kepada para penduduk tentang lokasi tempat Lynx sebelumnya menyuruh Mira dan kawan-kawannya berlindung.

“Apakah kalian mengerti lokasinya?” tanya Lynx, memastikan.

Seorang pria tua yang tampak lebih tenang menjawab, “Kami tahu wilayah di bagian timur pulau ini. Dengan petunjuk tadi, kami bisa menemukannya.”

“Bagus,” kata Lynx sambil berdiri tegak. “Besok pagi, saat matahari terbit, pergilah. Jangan buang waktu. Aku juga akan melanjutkan perjalanan menuju lokasi lain untuk menyelamatkan yang lainnya.”

Tiba-tiba saja, Lynx berkata keras sambil memandang seorang pemuda. "Aku tidak ingin ada pengecut dan pengkhianat. Jadi pastikan aku tidak akan mendengar mengenai hal tersebut."

Selama perjalanan dari sarang perampok, Lynx dapat mendengar percakapan mereka yang marah terhadap seorang pemuda yang sudah membocorkan lokasi anak-anak mereka bersembunyi. Namun, Lynx ingin memberi kesempatan kepada pemuda tersebut setelah mengetahui alasan dibalik peristiwa tersebut. "Dia melakukannya bukan untuk dirinya sendiri, dia masih bisa berubah "

Pria yang ditatap oleh Lynx mengeluarkan keringat dingin. Dalam hatinya, dia berjanji tidak akan mengulangi lagi kesalahan yang sama. Dia sudah ditipu oleh perampok. Dengan harapan orang tuanya bisa di bebaskan, dia memberitahu para perampok bahwa masih ada para gadis yang bersembunyi di tempat persembunyian. Namun, di luar harapannya, ternyata para perampok tidak melepaskan mereka. Justru, dia terkena marah dari orang tua gadis yang dibocorkan lokasi sembunyinya.

Perasaan bersalah menyelimuti pemuda itu saat dia mendengar bisikan kemarahan dari para penduduk. Dia tahu bahwa kesalahan itu bisa berakibat fatal, bukan hanya untuknya, tetapi juga untuk semua orang yang dia sayangi. Lynx, yang menyaksikan semua itu, merasa bahwa kesempatan kedua mungkin bisa menjadi harapan bagi pemuda tersebut untuk membuktikan dirinya.

Setelah menemukan tempat aman untuk bermalam, Lynx duduk di dekat api unggun kecil yang ia nyalakan sendiri. Sorot matanya menyapu wajah-wajah kelelahan di sekitarnya, wajah yang masih dibayangi rasa takut dan trauma.

“Aku tidak bisa membiarkan mereka hidup dalam ketakutan selamanya,” pikir Lynx dalam hati. “Mereka layak mendapatkan kedamaian, dan aku akan memastikan itu terjadi.”

Lynx bangkit perlahan, berjalan ke balik pohon besar. Dengan cepat, ia mengeluarkan beberapa bungkus makanan dari cincin penyimpanan. “Untung aku membawa cadangan makanan yang cukup,” gumamnya.

Lynx segera kembali dengan membawa makanan yang dibungkus dengan kain dari kulit hewan. Saat ia kembali, aroma harum roti memenuhi udara. Anak-anak yang duduk di samping orang tua mereka segera menoleh, mata kecil mereka berbinar penuh harap.

Aku lapar...” seorang anak kecil berkata pelan kepada ibunya, suaranya nyaris seperti bisikan.

“Sabar, Nak. Kita akan mencari makanan besok,” jawab sang ibu sambil mengelus rambut anaknya, meski wajahnya penuh rasa bersalah.

Lynx tersenyum melihat adegan tersebut, dia teringat orang tuanya yang sudah lama ditinggalkannya, "pasti mereka sangat khawatir karena aku menghilang tanpa berita." batinnya.

Lynx berjongkok di depan si anak kecil dan menyodorkan sepotong roti. “Makanlah. Ini namanya roti. Rasanya enak,” katanya dengan suara hangat.

Anak itu menatap ibunya untuk meminta izin. Setelah ibunya mengangguk, ia menerima roti itu dengan tangan kecilnya dan mulai memakannya dengan lahap.

“Tolong bagikan ini kepada yang lain,” kata Lynx sambil menyerahkan bungkusan makanan kepada seorang pria tua.

Para penduduk mulai membagi makanan itu dengan hati-hati, wajah mereka berubah dari muram menjadi penuh rasa syukur."Wah makanan apa ini, rasanya sangat enak dan juga manis," terdengar anak-anak dan penduduk lainnya memuji masakan yang belum pernah mereka temui. Berkat Leena dan Lala, mereka mengolah berbagai bahan seperti tebu dan sejenis tanaman stevia menjadi pemanis makanan dan minuman.

"Kepala suku, bagaimana anda bisa mendapatkan makanan ini?" tanya salah satu penduduk dengan nada hormat namun dari wajahnya terlihat penasaran.

"Aku sebelum menyelamatkan kalian, sudah meletakkan makanan sebelumnya di tempat itu agar tidak mengganggu rencanaku menyerang mereka." Jawab Lynx.

Bruno mengerutkan alis dan berpikir keras, "kenapa aku tidak melihatnya membawa apapun. Dan dia bilang membawa makanan saat kesini? Apakah aku terlalu takut sampai tidak memperhatikan apa yang dia bawa? Selain itu baru malam ini dia ke tempat ini. Apakah dia juga bisa sihir?," batinnya, penasaran, namun tidak berani bertanya.

Keesokan harinya, setelah memastikan kepergian semua penduduk saat matahari mulai terbit, Lynx duduk menenangkan dirinya. Di belakangnya, Bruno berdiri canggung, tatapannya gelisah.

“Bruno,” panggil Lynx dengan suara datar namun memerintah.

Bruno terlonjak sedikit. “Y-ya?”

“Kau akan memimpin perjalanan ini. Kita akan menuju sarang perampok lainnya. Jika ada penduduk yang ditahan di sana, aku ingin memastikan mereka dibebaskan.” Lynx melipat tangannya, menatap Bruno seperti seorang hakim yang memutuskan nasib terdakwa.

Bruno menelan ludah, merasa tidak punya pilihan. “Baiklah, kapan kita berangkat? Aku tahu sarang lainnya yang terdekat,” katanya pelan, suaranya hampir seperti bisikan.

“Bagus,” ujar Lynx. “Kita bergerak sekarang.”

Tanpa bertanya lebih lanjut, Bruno memimpin jalan menuju sarang perampok terdekat di ikuti Lynx di belakangnya.

Hari demi hari berlalu. Bruno memimpin Lynx ke berbagai lokasi para perampok yang tersembunyi, mulai dari gua kecil hingga gubuk yang dikelilingi pepohonan lebat. Setiap kali Lynx tiba, ia menghancurkan tempat itu dengan kekuatan supernya, menyelamatkan para penduduk yang ditawan.

“Dia bukan manusia,” bisik salah satu perampok yang menyerah setelah melihat teman-temannya dilumpuhkan Lynx dalam sekejap.

Bruno, meskipun ketakutan, mulai memahami pola pikir Lynx. Ia diam-diam mulai merasa kagum dengan keteguhan Lynx dalam melindungi penduduk.

Di setiap tempat, Lynx memastikan penduduk yang bebas diberi arah ke tempat aman, sering kali juga dia mengirim mereka ke wilayah barat tempat suku Surya berada untuk bersatu.

Meski awalnya takut, tapi setelah diyakinkan, mereka percaya dengan Lynx dan memilih pergi ke wilayah barat untuk bergabung.

Namun, semakin banyak sarang yang dihancurkan, semakin jelas bagi Lynx bahwa sesuatu terasa tidak benar.

Sementara itu di perkampungan perampok, Kronar duduk di atas sebuah kursi besar dari kayu hitam, matanya memandang tajam ke seorang perampok kurus yang tengah berlutut di hadapannya. Wajah perampok itu basah oleh keringat, tubuhnya bergetar.

“Jadi mereka semua terbunuh?” suara Kronar terdengar berat dan penuh ancaman.

“B-betul pimpinan, Saat aku tiba di tempat itu, sudah penuh dengan mayat-mayat dari anggota kita, mereka terbunuh dengan cara yang tidak bisa aku pahami, luka-luka mereka terlihat aneh. Posisi mayat mereka, seolah-olah tidak ada perlawanan dari anggota kita, begitu juga di tempat kita yang lainnya, mengalami hal yang sama sehingga aku langsung kembali kesini.” perampok itu tergagap.

